Selasa, 06 Desember 2011

Perempuan harus Bisa Manfaatkan Peluang


Ir Hj Rahmi, Kabid Organisasi Perempuan dan Peran serta Masyarakat BPPKB Kabupaten Bengkalis ini, selalu santai dan ramah senyum. Inilah karakter yang dimilikinya. Ketika sebuah pekerjaan selesai dikerjakan, maka hasil adalah targetnya.

Untuk mencapai semua itu, tentunya harus ada proses yang dilalui. Tak ada yang mudah, semua penuh dengan tantangan dan hambatan. Semakin banyak tantangan, yang diselesaikan, semakin nikmatlah hidup ini. Tapi, bukan berarti semua ini harus mencari-cari masalah.

“Hidup ibarat belajar di atas laut. Kadang ada ombak kecil, kadang pula kita menghadapi ombak yang ganas. Hanya nahkoda yang punya nyali untuk berlayar dan mampu menaklukkan ombak ganas itu,” kata Rahmi yang lama bergelimang di Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis.

Jadi tak heran, ketika ia harus menunjukkan semangat hidup sebagai perempuan yang berkutat pada setiap program pemberdayaan perempuan di BPPKB Kabupaten Bengkalis.

Bahkan, motivasi ia torehkan pada pantun Melayu, Tenas Effendi: Kalau hendak menjalin teraju/Dikala terang dengan lampu berminyak/kalau hendak perempuan maju/hendaknya dengan hati lapang dan ilmunya banyak.

“Kalau jadi perempuan yang maju, harus siap menghadapi tantangan. Tentunya dengan berbekal ilmu yang banyak,” ucapnya.

Maka, lanjut Rahmi, prinsip ini mirip dengan monitoring dan evaluasi/manev. Dalam managemen modern, prinsip ini wajib hukumnya untuk diterapkan dalam organisasi apa pun termasuk organisasi kehidupan. Karena, kalau pun tidak ditargetkan dengan sasaran yang senantiasa berkembang, maka kata orang bijak kita pada dasarnya sudah mati.

Mungkin apa yang kita sebut modern hanyalah apa yang tak berharga untuk tertinggal sampai tua. “Hidup bersemangat karena adalah target yang hendak dicapai, sebaliknya rutinitas sangat membosankan,” terang perempuan ini, kepada Che’ Puan.

Untuk itu, ketidakadilan gender kadang terjadi, sebagai bentuk perbedaan perlakuan yang berdasarkan alasan gender, seperti pembatasan peran, penyingkiran atau pilih kasih yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas pengakuan hak asasi, persamaan antara laki-laki dan perempuan.

“Makanya, ketidakadilan gender kadang terjadi sebagai bentuk perbedaan perlakuan dengan alasan gender, seperti pembatasan peran, penyingkiran atau pilih kasih yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas pengakuan hak asasi,” terangnya.

Rahmi menjelaskan, bahwa hal ini bisa juga terjadi pada hak dasar dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. Lawan dari ketidakadilan ini kesetaraan gender. Untuk mensiasati ini perlu upaya untuk menjadikan yang tidak adil menjadi setara, sehingga akan terjadi suatu proses, karena terkait dengan merubah sosio kultural yang ada.*

0 komentar:

Posting Komentar

Sekapur Sirih

Salam Hormat, Mengingat pentingnya fasilitas internet bagi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Bengkalis...Selengkapnnya..